Belakangan banyak penyedia jasa digital ads di Indonesia yang menjajakan "video iklan AI generate dari wajah publik figur" dengan harga mulai dari satu juta rupiah. Portofolionya memang menarik secara visual, dan harganya terdengar terjangkau dibanding sewa endorser beneran.
Tapi coba berhenti sejenak sebelum transfer DP. Kalau dihitung-hitung dengan kepala dingin, tawaran ini sebenarnya bukan cuma berisiko secara hukum, secara bisnis pun, ini transaksi yang merugikan brand owner sendiri. Berikut alasannya.
1. Harganya Gak Sebanding dengan yang Brand Owner Dapatkan
Satu juta rupiah terdengar murah untuk sebuah "video iklan AI". Tapi pertanyaannya: murah dibanding apa?
Kalau dibandingkan dengan menyewa KOL (Key Opinion Leader) asli, satu juta rupiah itu bukan harga murah, itu harga yang sudah cukup untuk sewa nano sampai micro influencer sungguhan, lengkap dengan engagement asli dari followers mereka. Nano influencer dengan rentang 1.000–10.000 followers umumnya mematok tarif Rp50 ribu hingga Rp500 ribu per unggahan, sementara micro influencer biasanya dipatok di kisaran Rp1 juta hingga Rp5 juta per posting.
Artinya, dengan budget satu juta, brand owner sebenarnya punya pilihan: dapat konten dari manusia asli yang punya followers asli, audiens asli, dan engagement asli, bukan video hasil generate AI yang kontennya tidak dimiliki siapa pun dan tidak terhubung ke audiens mana pun.
2. Kalau Cuma Generate AI, Buat Apa Bayar Jasa Freelance?
Ini pertanyaan paling mendasar yang jarang diajukan brand owner: kalau cuma proses generate AI, kenapa harus bayar orang lain untuk melakukannya?
Membuat video AI generative pada dasarnya adalah soal menulis prompt yang tepat ke sebuah tools, proses yang sekarang bisa dipelajari tim marketing internal dalam hitungan jam, bukan keahlian eksklusif yang butuh jasa pihak ketiga. Kalau brand owner sudah punya tim marketing sendiri, mereka bisa:
- Belajar tools AI generative yang sama dengan yang dipakai si penyedia jasa
- Membuat variasi konten sendiri tanpa bayar per video
- Mengontrol penuh hasil akhir tanpa bergantung pada freelancer
Yang dijual penyedia jasa semacam ini sebenarnya bukan "keahlian AI", karena AI-nya sendiri terbuka untuk siapa saja. Yang dijual adalah ilusi bahwa ini butuh keahlian khusus, padahal nilai jual sebenarnya cuma terletak pada satu hal: berani memakai wajah publik figur tanpa izin, sesuatu yang justru seharusnya jadi alasan untuk tidak membelinya.
3. Risiko Hukum Itu Bukan Risiko Si Pembuat Konten Doang
Ini bagian yang paling sering diabaikan brand owner: kalau video itu dipakai untuk iklan dan ada masalah hukum di kemudian hari, yang kena dampak bukan cuma freelancer yang bikin videonya, brand owner yang memesan dan menayangkan iklan tersebut ikut menanggung risiko.
Penggunaan wajah seseorang untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis adalah pelanggaran yang diatur tegas dalam UU Hak Cipta dan UU Perlindungan Data Pribadi, dengan ancaman sanksi yang nilainya jauh melampaui ongkos satu juta rupiah yang dibayarkan untuk jasa tersebut. Begitu video itu tayang dan dipakai untuk menjual produk, brand owner-lah yang nama dan reputasinya ikut terseret kalau publik figur tersebut, atau tim hukumnya, mempermasalahkan.
Dengan kata lain: brand owner membayar satu juta rupiah, tapi berpotensi menanggung risiko hukum yang nilainya bisa ratusan kali lipat dari itu.
4. Pakai KOL Rintisan Jauh Lebih Aman dan Realistis
Kalau alasan memilih jasa AI generate wajah publik figur adalah karena budget terbatas, sebenarnya ada opsi yang jauh lebih masuk akal: KOL atau influencer rintisan.
Brand tidak perlu menyewa publik figur besar yang harganya bisa puluhan juta rupiah per konten. Influencer atau KOL pemula dengan budget di kisaran satu jutaan justru menjadi pilihan yang realistis, dan ini bukan kompromi kualitas, karena:
- Mereka asli, bukan hasil generate — wajah, suara, dan testimoninya adalah milik mereka sendiri, bukan curian identitas orang lain
- Tidak ada masalah hukum — karena mereka memberikan izin langsung lewat kesepakatan kerja sama
- Audiensnya nyata — followers mereka adalah orang-orang yang benar-benar mengikuti dan mempercayai mereka, bukan sekadar wajah familiar di layar
- Bisa dibangun jadi hubungan jangka panjang — beda dengan video AI sekali pakai, kerja sama dengan KOL rintisan bisa berkembang jadi partnership berkelanjutan
Dengan budget yang sama persis, brand owner mendapatkan sesuatu yang nyata, legal, dan punya potensi pertumbuhan, bukan sekadar video yang sewaktu-waktu bisa jadi bom waktu hukum.
Jadi, Worth It atau Tidak?
Kalau ditimbang dari tiga sisi sekaligus, nilai uang, kebutuhan riil terhadap jasa pihak ketiga, dan risiko hukum yang harus ditanggung, tawaran "video iklan AI generate wajah publik figur seharga satu juta" sebenarnya bukan tawaran murah. Ini tawaran yang:
- Harganya setara atau lebih mahal dari menyewa KOL asli dengan budget yang sama
- Menjual sesuatu yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri oleh tim internal
- Membawa risiko hukum yang nilainya jauh melampaui harga jasanya
- Mengorbankan opsi yang jauh lebih aman, yaitu kerja sama dengan KOL rintisan yang legal dan punya audiens nyata
Comments
Post a Comment