Balik Ngeblog Lagi, Padahal Dunia Blog Udah Mau Pensiun

Aku main TikTok, aku ada di YouTube, tapi aku tetap balik ke blog. Ini bukan nostalgia buta. Ini pilihan.

Kalau kamu nanya ke aku setahun lalu, "masih ngeblog?", aku akan ketawa pelan dan bilang, "udah lama enggak."

Dan itu fakta. Aku hiatus. Lumayan lama. 

Tapi aku balik.

Bukan karena tiba-tiba viral, bukan karena ada yang minta, dan definitely bukan karena ini menghasilkan cukup untuk beli makan siang. Aku balik karena ada sesuatu di sini yang tidak aku temukan di tempat lain, dan butuh waktu hiatus panjang untuk akhirnya sadar itu.

Konteksnya Dulu: Aku Bukan Orang yang Cuma Ngeblog

Aku juga ada di TikTok. Di YouTube. Di platform video lainnya.

Jadi kalau kamu pikir aku ngeblog karena tidak tahu cara bikin konten video, bukan itu ceritanya. Aku tahu ekosistem itu, aku main di sana, dan aku cukup paham bedanya nulis 1.500 kata vs bikin video 60 detik yang ditonton orang sambil tiduran.

Justru karena aku kenal dua dunia itu, aku bisa bilang dengan yakin: blog dan video itu bukan saingan. Mereka menjawab kebutuhan yang berbeda, untuk audiens yang berbeda, dan untuk aku yang berbeda di waktu yang berbeda.

Video untuk menjangkau. Blog untuk bicara.

1. Nostalgia yang Tidak Akan Aku Pura-pura Tidak Ada

Ada versi internet yang aku rindukan.

Yang dulu, orang nulis blog tentang hal-hal kecil, review film yang baru ditonton, cerita tentang hari yang biasa-biasa saja, rekomendasi buku yang bikin susah tidur. Tidak ada tekanan untuk hook di tiga detik pertama. Tidak ada pressure untuk punya thumbnail yang eye-catching.

Kamu nulis. Orang baca. Kadang mereka tinggalin komentar. Itu saja, dan itu cukup terasa hangat.

Di tengah konten yang makin cepat, makin pendek, makin ramai, blog terasa seperti warung kopi di pojok gang yang tidak pernah ikut tren kekinian. Sedikit yang tahu. Yang tahu, betah.

Hiatus panjang itu justru yang bikin aku sadar betapa aku merindukannya.

2. Waktu Luang yang Perlu Diisi dengan Cara yang Berbeda

Bikin konten video itu effort. Ada script, ada shooting, ada editing, ada upload, ada balas komen, ada analisis performa. Itu pekerjaan, yang aku nikmati, tapi tetap terasa seperti pekerjaan.

Blog beda.

Blog adalah aku duduk, buka laptop, dan nulis dengan kecepatan pikiran sendiri. Tidak ada yang harus diedit secara visual. Tidak ada yang harus performatif. Kalau kalimatnya berantakan, itu urusan nanti, atau tidak sama sekali.

Mengisi waktu luang dengan ngeblog itu seperti rebahan yang produktif versi aku sendiri. Tidak menghasilkan apa-apa secara materi, tapi rasanya jauh lebih penuh daripada dua jam doom-scrolling yang tidak jelas ujungnya.

3. Karena Aku Suka, dan Itu Alasan yang Cukup

Ini yang paling simpel dan paling sering diremehkan.

Di ekosistem konten yang selalu nanya "berapa views-nya?", "udah monetisasi belum?", "konversinya bagaimana?", bilang "aku nulis karena suka" terasa seperti jawaban yang kurang serius.

Tapi justru karena aku punya platform lain yang lebih "terukur", aku bisa menikmati blog sebagai ruang yang bebas dari semua metrik itu.

Di sini tidak ada target. Tidak ada algoritma yang harus aku kalahkan. Tidak ada format yang harus aku ikuti supaya platform-nya suka.

Aku suka proses milih kata. Suka ketika satu paragraf akhirnya berbunyi seperti yang aku maksud. Suka punya satu sudut di internet yang nadanya benar-benar seperti suaraku, tidak lebih keras, tidak lebih pendek, tidak lebih "catchy" dari yang seharusnya.

Soal Hiatus Panjang Itu

Aku tidak akan bilang hiatus itu salah.

Kadang kita perlu jeda dari sesuatu untuk tahu seberapa kita merindukannya. Blog ini sempat terasa seperti kewajiban, dan begitu terasa seperti kewajiban, semua yang tadinya menyenangkan jadi berat.

Jadi aku berhenti. Pindah fokus ke platform lain. Hidup berlanjut.

Dan suatu hari, entah kenapa, aku buka lagi. Nulis lagi. Publish lagi.

Tidak ada momen dramatis. Tidak ada epifani besar. Hanya... terasa seperti pulang ke tempat yang tidak pernah benar-benar aku tinggalkan sepenuhnya.

Jadi, Kenapa Masih Ngeblog?

Bukan karena tidak ada pilihan lain, aku punya banyak.

Bukan karena ini menghasilkan banyak, ini tidak.

Tapi karena di antara semua platform yang aku mainkan, blog adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu jadi konten kreator. Aku cukup jadi orang yang sedang ingin bercerita.

Dan kadang, itu yang paling aku butuhkan.

Kalau kamu juga sempat hiatus panjang dan lagi nimbang untuk balik ngeblog lagi, hai. Tidak ada yang menghakimi. Tulisanmu masih relevan, dan internet masih butuh orang yang mau nulis lebih dari 280 karakter.

Sampai tulisan berikutnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama