Pernah scroll grup Telegram dan nemu tawaran kerja kayak gini: "Share postingan ini, dapet 500 perak"? Atau "Komentar sesuai script, bayaran 200 perak per tugas"?
Reaksi pertama kebanyakan orang biasanya sama: kok ada ya yang mau? Lanjut dengan kesimpulan cepat, "harga dirinya murah banget berarti."
Tapi coba kita pause sebentar. Sebelum buru-buru nge-judge, ada baiknya kita gali lebih dalam kenapa fenomena ini bisa eksis dan terus bertahan.
Bukan Soal Harga Diri, Tapi Soal Supply dan Demand
Coba lihat dari kacamata ekonomi sederhana. Setiap kali ada celah penghasilan, sekecil apapun nominalnya, pasti ada yang ngantri buat ngisi celah itu. Ini bukan fenomena unik buzzer doang, ini hukum dasar pasar tenaga kerja.
Kalau ada 1.000 orang butuh kerjaan dan cuma ada 100 lowongan formal yang layak, maka 900 orang sisanya akan cari alternatif. Apapun itu. Termasuk kerjaan recehan yang sebenarnya nggak ideal, tapi "yaudahlah, lumayan."
Logikanya simpel: makin banyak orang yang butuh penghasilan dibanding lowongan yang tersedia, makin rendah juga "harga" yang bisa ditawarkan ke mereka. Dan anehnya, tetap akan ada yang menerima.
Coba Tempatkan Diri di Posisi Mereka
Bayangin lo lulusan baru. Udah kirim puluhan lamaran, nggak ada panggilan. Atau lo kepala keluarga yang kerjaan utamanya nggak cukup buat nutup kebutuhan bulanan. Tiba-tiba ada yang nawarin, "share ini, dapet 500 perak."
Yang kepikiran bukan, "ini ngerendahin harga diri gue nggak ya." Yang kepikiran lebih ke, "lumayan, buat tambahan beli kuota atau jajan anak."
Ini bukan soal mental lemah atau nggak punya prinsip. Ini soal kebutuhan riil yang harus dipenuhi, dan pilihan yang tersedia memang terbatas.
Harga Receh Itu Sendiri Adalah Bukti
Ini bagian yang ironis: nominal 200-2000 perak per tugas itu justru jadi indikator paling jujur soal kondisi pasar kerja kita.
Logikanya gini, kalau supply tenaga kerja tinggi, mana mungkin ada yang berani nawarin bayaran sekecil itu? Pasti bakal ada penolakan massal, orang-orang bakal bilang "ah nggak worth it." Tapi nyatanya, penawaran kayak gini tetap jalan terus dan terus ada yang ambil.
Itu artinya: jumlah orang yang butuh penghasilan tambahan, sekecil apapun, memang banyak banget. Kalau nggak, sistem ini nggak akan bisa jalan sama sekali.
Pasar Kerja yang Sehat Itu Kayak Gimana?
Pasar kerja yang sehat biasanya nawarin lebih dari sekadar "ada penghasilan." Ada jaminan keberlanjutan, ada jenjang karier, ada rasa aman secara finansial dalam jangka panjang.
Begitu kondisi itu nggak terpenuhi, lowongan seret, kerjaan formal susah dicari, sementara kebutuhan hidup terus jalan, orang-orang akan ambil apapun yang available. Termasuk jadi alat penggiring opini demi recehan.
Fenomena buzzer murah ini, kalau dilihat dari sudut pandang ini, bukan cerminan mentalitas individu. Ini cerminan struktur ekonomi yang lagi nggak sehat.
Jadi, Sebelum Nge-judge...
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan "kok harga dirinya murah banget," tapi "kenapa ada begitu banyak orang yang terpaksa menerima bayaran semurah itu untuk kerjaan se-receh itu?"
Jawabannya bukan soal moral atau mental seseorang. Ini soal struktur pasar kerja yang menciptakan kondisi di mana orang-orang nggak punya banyak pilihan selain mengambil apa yang ada di depan mata.
Catatan: Meski artikel ini berusaha melihat fenomena buzzer secara objektif dari sisi struktural, penulis pribadi tetap tidak menyukai praktik buzzer sebagai alat penggiring opini.
Comments
Post a Comment