Affiliate Shopee & TikTok 2026: Telat atau Masih Ada Ruang?

Pertanyaan ini pasti pernah terlintas: "Sekarang udah 2026, affiliate Shopee sama TikTok kayaknya udah rame banget, masih worth it nggak sih kalau baru mulai?"

Wajar kalau ragu. Tiap hari muncul konten kreator yang katanya tidur lalu bangun-bangun dapat notifikasi komisi puluhan juta. Di sisi lain, ada juga cerita soal aturan baru yang makin ketat dan persaingan yang makin sesak. Biar nggak cuma modal feeling, yuk kita bedah datanya satu per satu.

Pertumbuhan Affiliate Masih Kencang, Bukan Melambat

Kalau alasan ragu kamu adalah "kayaknya udah telat karena udah banyak yang main", data justru menunjukkan sebaliknya. Berdasarkan data internal TikTok Shop di kuartal pertama 2026, jumlah affiliator baru di Asia Tenggara melonjak hingga 180% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Itu bukan angka pertumbuhan yang melandai, itu angka pertumbuhan yang masih meledak. Pasar yang udah jenuh biasanya pertumbuhannya datar atau bahkan turun, bukan naik tiga kali lipat dalam setahun.

Dari sisi transaksi, Gross Merchandise Value (GMV) TikTok Shop di Indonesia juga terus naik tajam sejak 2022 ke 2024, dan terintegrasi makin kuat dengan Tokopedia. Artinya, kue yang diperebutkan bukannya mengecil, tapi justru terus membesar.

Syarat Masuk Makin Dipermudah

Salah satu indikator paling jelas bahwa pasar belum jenuh adalah platform sendiri justru terus mempermudah jalan masuk untuk pemain baru. Kalau dulu TikTok Affiliate mensyaratkan minimal 1.000-1.500 followers, di 2026 ambang batas itu sudah diturunkan jadi sekitar 500 followers aktif, bahkan ada jalur alternatif lewat TikTok Shop Seller Center yang sama sekali tidak mensyaratkan jumlah followers.

Shopee Affiliate juga konsisten dengan kebijakannya: program regulernya tidak pernah mensyaratkan jumlah follower minimum sejak awal. Yang dibutuhkan cuma akun aktif, konten orisinal, dan rekening bank yang valid.

Kalau platform besar seperti ini terus melonggarkan syarat, itu sinyal kuat bahwa mereka masih butuh lebih banyak kreator baru untuk menggerakkan ekosistemnya, bukan sebaliknya.

Tapi Ada Pergeseran Besar yang Wajib Dipahami

Bukan berarti semuanya mulus tanpa tantangan. Mulai Mei 2026, TikTok Shop memberlakukan aturan baru yang menyentuh tiga area sekaligus: minimum commission rate per kategori produk, evaluasi ulang eligibility kreator, dan kewajiban label transparansi pada konten affiliate.

Dampaknya, kreator yang tidak memenuhi kriteria baru otomatis dipindahkan ke status non-aktif dan hilang dari pool affiliate. Beberapa minggu setelah aturan ini berlaku, jumlah kreator aktif sempat menyusut karena banyak yang belum menyesuaikan performa kontennya.

Ini justru kabar baik buat pemula yang serius. Aturan baru ini menyaring kreator yang asal-asalan, dan membuka ruang lebih besar buat yang konsisten bikin konten berkualitas dengan disclosure yang jujur.

Gejala "Bubble" yang Perlu Diwaspadai

Di balik pertumbuhan pesat, mulai muncul retakan struktural yang jujur perlu diakui. Feed TikTok mulai dibanjiri konten hard-sell dengan template seragam seperti "Langsung GRAB!" atau "Cuma 3 detik lagi diskon!", yang lama-lama bikin audiens lelah dan skeptis.

Selain itu, banyak kreator berbondong-bondong mengejar produk dengan komisi tertinggi tanpa mempertimbangkan kualitas, sehingga produk private label murah dengan klaim berlebihan ikut membanjiri rekomendasi affiliate. Ini pelan-pelan mengikis kepercayaan konsumen terhadap konten review affiliate secara umum.

Artinya, cara lama "asal posting link, asal dapat komisi tinggi" makin susah bertahan. Yang bertahan adalah kreator yang membangun kepercayaan lewat konten otentik di satu niche spesifik.

Realita Penghasilan: Jauh dari Cerita Viral

Cerita tentang mahasiswa yang bangun tidur dapat komisi puluhan juta memang ada, tapi itu outlier, bukan representasi umum. Berdasarkan data dari kreator affiliate Indonesia, gambaran realistis penghasilan di 2026 kurang lebih seperti ini:

  • Pemula (0–3 bulan): Rp500.000 – Rp2.000.000 per bulan dari gabungan Shopee dan TikTok
  • Menengah (3–12 bulan): Rp3.000.000 – Rp10.000.000 per bulan dengan audiens yang mulai solid
  • Advanced (1 tahun ke atas): Rp15.000.000 – Rp50.000.000 per bulan, biasanya untuk kreator yang konsisten di niche spesifik seperti kecantikan, elektronik, atau kuliner

Angka ini jauh lebih masuk akal dibanding cerita viral, tapi tetap menunjukkan bahwa peluangnya nyata kalau dikerjakan dengan konsisten.

Shopee atau TikTok, Mana yang Lebih Realistis untuk Pemula?

Keduanya punya karakter berbeda dan justru saling melengkapi:

  • Shopee Affiliate cocok buat yang sudah punya audiens di platform lain seperti grup WhatsApp, Telegram, atau blog, dan ingin penghasilan yang lebih bisa diprediksi karena hasilnya proporsional dengan jumlah link yang disebar dan kualitas rekomendasi.
  • TikTok Affiliate cocok buat yang nyaman bikin konten video dan ingin memanfaatkan jangkauan algoritma For You Page, dengan potensi komisi lebih tinggi di kategori tertentu, tapi juga persaingan konten yang lebih ramai.

Banyak kreator di 2026 justru menjalankan keduanya sekaligus: konten video di TikTok untuk membangun engagement, sambil mengarahkan sebagian traffic ke link Shopee Affiliate untuk diversifikasi penghasilan.

Jadi, Telat atau Belum?

Berdasarkan semua data di atas, jawabannya bukan "sudah telat", tapi "permainannya sudah berubah". Pintu masuknya masih terbuka lebar, bahkan makin dipermudah dari sisi syarat pendaftaran. Pasar transaksinya juga masih tumbuh, bukan menyusut.

Yang sudah berakhir adalah era asal posting link dengan konten template seragam dan langsung panen komisi besar tanpa usaha. Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi membangun niche, konten otentik dengan disclosure yang jujur, dan kesabaran melewati fase awal yang penghasilannya belum besar.

Kalau kamu menunggu momen "pasar masih sepi" untuk mulai, momen itu sudah lewat sejak beberapa tahun lalu. Tapi kalau yang kamu cari adalah peluang nyata dengan ekspektasi realistis, 2026 masih jadi waktu yang masuk akal untuk mulai, asal siap bermain dengan aturan baru, bukan strategi lama.

Comments

Comments